Yang tidak bisa diucapkan AYAH...............

|1 komentar

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.. akan sering merasa kangen sekali dengan Bundanya.

Lalu bagaimana dengan Ayah?
Mungkin karena Bunda lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Ayah-lah yang mengingatkan Bunda untuk menelponmu?
Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Bunda-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Ayah bekerja dan dengan wajah lelah Ayah selalu menanyakan pada Bunda tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil.. Ayah biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah Ayah mengganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu...

Kemudian Bunda bilang : "Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya"
Bunda takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?

Bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Bunda menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"

Tahukah kamu, Ayah melakukan itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Ayah yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".

Berbeda dengan Bunda yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah, saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.... Kamu mulai menuntut pada Ayah untuk dapat izin keluar malam, dan Ayah bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak
boleh!".

Tahukah kamu, bahwa Ayah melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..

Setelah itu kamu marah pada Ayah, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu... Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Bunda....

Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?
Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Ayah akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')

Ayah sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..

Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Ayah melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.

Maka yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...dan setelah perasaan khawatir itu berlarut- larut... ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Ayah akan mengeras dan Ayah memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Ayah akan segera datang? "Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Ayah"

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.

Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...

Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Ayah

Ketika kamu menjadi gadis dewasa.... dan kamu harus pergi kuliah dikota lain... Ayah harus melepasmu di bandara.

Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu?

Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .

Padahal Ayah ingin sekali menangis seperti Bunda dan memelukmu erat-erat.

Yang Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".

Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT...kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah.

Ayah pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"

Padahal dalam batin Ayah, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu".

Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.

Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.

Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya.

Ayah akan sangat berhati-hati memberikan izin..

Karena Ayah tahu.....

Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya.... Saat Ayah melihatmu duduk di Panggung Pelaminan
bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Ayah
pun tersenyum bahagia....

Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?

Ayah menangis karena ayah sangat berbahagia, kemudian Ayah berdoa.... Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Ayah berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik.... Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik.... Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...

Dengan rambut yang telah dan semakin memutih.... Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....

Ayah telah menyelesaikan tugasnya....



Ayah kita... Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat... Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...

Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .

Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah kita... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya ;)

Yes I love you so much, Father ..

DEMIKIAN DENGAN BAPA YANG DI SURGA SELALU MEMPERHATIKAN KITA DAN MENJAGA KITA ...... Mzm 23

Kisah Natal: INJIL menurut toko serba ada

|0 komentar
Ada kisah tentang kebaikan dan kasih yang tercecer dari antara perayaan-perayaan Natal, semacam kisah Orang Samaria yang Baik Hati. Kisah tentang kasih yang indah ini sayangnya tidak terjadi di gereja, tetapi di sebuah toko serba ada (Dept. Store) di Amerika Serikat.

Pada suatu hari seorang pengemis wanita, yang dikenal dengan sebutan "Bag Lady" (karena segala harta-bendanya termuat dalam sebuah tas yang ia jinjing kemana-mana sambil mengemis), memasuki sebuah Dept. Store yang mewah sekali. Hari-hari itu adalah menjelang hari Natal. Toko itu dihias dengan indah sekali. Semua lantainya dilapisi karpet yang baru dan indah. Meskipun bajunya kotor dan penuh lubang, pengemis ini tanpa ragu-ragu memasuki toko ini. Badannya mungkin sudah tidak mandi berminggu-minggu. Bau badan menyengat hidung.

Ketika itu, ada seorang hamba Tuhan mengikutinya dari belakang. Ia berjaga-jaga, kalau petugas sekuriti toko itu mengusir pengemis ini, sang hamba Tuhan mungkin dapat membela atau membantunya. Wah, tentu pemilik atau pengurus toko mewah ini tidak ingin ada pengemis kotor dan bau mengganggu para pelanggan terhormat yang ada di toko itu. Begitu pikir sang hamba Tuhan.

Tetapi pengemis ini dapat terus masuk ke bagian-bagian dalam toko itu. Tak ada petugas keamanan yang mencegat dan mengusirnya. Aneh ya, padahal, para pelanggan lain berlalu lalang di situ dengan setelan jas atau gaun yang mewah dan mahal. Di tengah toko itu ada piano besar (grand piano) yang dimainkan seorang pianis dengan jas tuksedo, mengiringi para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu Natal dengan gaun yang indah. Pengemis itu kelihatan sangat tidak cocok dengan suasana di toko itu. Ia nampak seperti makhluk aneh di lingkungan yang gemerlapan itu, tetapi sang 'Bag Lady' jalan terus. Sang hamba Tuhan itu juga mengikuti terus dari jarak tertentu.

Rupanya pengemis itu mencari sesuatu di bagian gaun wanita. Ia mendatangi counter paling eksklusif yang memajang gaun-gaun mahal ber-merek (branded items) dengan harga diatas 00 untuk satu gaun. Kalau dikonversi dengan kurs akhir-akhir ini, harganya dalam rupiah pasti lebih dari Rp. 20 juta untuk satu gaun.

Baju-baju yang mahal dan mewah! Apa yang dikerjakan pengemis ini? Sang pelayan bertanya, "Apa yang dapat saya bantu bagi anda?" "Saya ingin mencoba gaun merah muda itu!"

Kalau anda ada di posisi sang pelayan itu, bagaimana respons anda? Wah, kalau pengemis ini mencobanya tentu gaun-gaun mahal itu akan jadi kotor dan bau, dan pelanggan lain yang melihat mungkin akan jijik membeli baju-baju ini setelah dia pakai. Apalagi bau badan orang ini begitu menyengat, tentu akan merusak gaun-gaun itu.

Tetapi mari kita dengarkan apa jawaban sang pelayan toko mewah itu. "Berapa ukuran yang anda perlukan?" "Tidak tahu!" "Baiklah, mari saya ukur dulu."

Pelayan itu mengambil pita meteran, mendekati pengemis itu, mengukur bahu, pinggang, dan panjang badannya. Bau menusuk hidung terhirup ketika ia berdekatan dengan pengemis ini. Ia cuek saja. Ia layani pengemis ini seperti satu-satunya pelanggan terhormat yang mengunjungi counternya.

"OK, saya sudah dapatkan nomor yang pas untuk nyonya! Cobalah yang ini!" Ia memberikan gaun itu untuk dicoba di kamar pas.

"Ah, yang ini kurang cocok untuk saya. Apakah saya boleh mencoba yang lain?" "Oh, tentu!" Pelayan ini menghabiskan waktu kurang lebih dua jam lamanya untuk melayani sang "Bag Lady".

Apakah pengemis ini akhirnya membeli salah satu gaun yang dicobanya? Tentu saja tidak! Gaun seharga puluhan juta rupiah itu jauh dari jangkauan kemampuan keuangannya. Pengemis itu kemudian berlalu begitu saja, tetapi dengan kepala tegak karena ia telah diperlakukan sebagai layaknya seorang manusia. Biasanya ia dipandang sebelah mata. Tapi hari itu, ada seorang pelayan toko yang melayaninya, menganggapnya seperti orang penting, dan yang mau mendengarkan permintaannya.

Tetapi mengapa pelayan toko itu mau repot-repot melayaninya? Bukankah kedatangan pengemis itu membuang-buang waktu dan memakan biaya bagi toko itu karena harus mengirim gaun-gaun yang sudah dicoba itu ke Laundry agar dicuci bersih supaya kembali tampak indah dan tidak bau. Pertanyaan ini juga mengganggu sang hamba Tuhan yang memperhatikan apa yang terjadi di counter itu.

Kemudian hamba Tuhan ini bertanya kepada pelayan toko itu setelah ia selesai melayani tamu "istimewa"-nya. "Mengapa anda membiarkan pengemis itu mencoba gaun-gaun indah ini?" "Oh, sudah menjadi tugas saya untuk melayani dan berlaku ramah."

"Tetapi, anda 'kan tahu bahwa pengemis itu tidak mungkin sanggup membeli gaun-gaun mahal ini?"

"Maaf, soal itu bukan urusan saya. Saya tidak dalam posisi untuk menilai atau menghakimi para pelanggan saya. Tugas saya adalah untuk melayani dan berbuat baik."

Hamba Tuhan ini tersentak kaget. Di jaman yang penuh keduniawian ini ternyata masih ada orang-orang yang tugasnya adalah melayani dan berbuat baik, tanpa perlu menghakimi orang lain. Hamba Tuhan ini akhirnya memutuskan untuk membawakan khotbah pada Hari Minggu berikutnya dengan thema "Injil Menurut Toko Serba Ada". Khotbah ini menyentuh banyak orang, dan kemudian diberitakan di halaman-halaman surat kabar di kota itu. Berita itu menggugah banyak orang sehingga mereka juga ingin dilayani di toko yang eksklusif itu.

Pengemis wanita itu tidak membeli apa-apa, tidak memberi keuntungan apa-apa. Namun akibat perlakuan istimewa toko itu kepadanya, hasil penjualan toko itu meningkat drastis, sehingga pada bulan itu keuntungan naik 48 %.

Ungkapan Hati : sebuah rasa

|0 komentar

Dalam keheningan tiada sapa
Dalam malam yang penuh kebisuan
Dalam perasaan yang tiada berbentuk
Dalam kebisuan yang tanpa alas an

Kucoba merajut kembali kisah yang lama
Menguntai benang-benang dalam letih
Kini putus tiada berujung
Hancur berkeping tiada bentuk

Dalam kesempatan yang sangat singkat
Dalam waktu yg berlari begitu cepat
Akankah kutuliskan kembali kisah indahnya
Akankah dapat kuukirkan kembali cerita yang dulu seperti kunantikan

Dalam hatinya tiada lagi namaku
Dalam nafasnya tiada lagi diriku
Dalam jiwanya tiada lagi rasaku
Dalam hidupnya tiada lagi kisahku

Biarkanlah semuanya pergi bersama sang waktu
Biarkanlah semuanya terbang bersama sang angin
Biarkanlah semuanya tenggelam bersama tenggelamnya sang surya
Biarkanlah semuanya berlalu, sampai akhirnya nanti kutemukan pelabuhan terakhir dan itulah DUNIAKU

Akan kulewati semuanya bersama sang Khalik
Hidup ini harus terus berjalan
Ada ataupun tanpa dia, dan
Aku masih memiliki IMPIAN yang jauh lebih dari apa pun bersama-NYA

Tithoez

hadiah Natal untuk Alma...

|1 komentar
Saat itu adalah malam menjelang natal di tahun 1970 dan seorang anak perempuan kecil berdoa untuk sebuah boneka. Dia tak pernah memiliki boneka selama ini. Alma memandang ke sekeliling rumahnya, rumah pertanian yang sederhana. Tidak ada pohon natal di sudut rumah. Tak ada lilin yang menyala di jendela. Tidak ada tumpukan kado Natal di atas meja. Tapi, rumah itu terlihat bersih dan hangat dan Alma merasa bahagia dan bersyukur.
Alma mencintai rumahnya dan dia juga mencintai gereja kecil bercat putih yang ada di desanya. Di gereja itu, dia mendengar kisah tentang Bayi Jesus yang juga miskin, yang bahkan tidak memiliki sebuah kasur untuk tidur, dan yang lahir di atas tumpukan jerami di sebuah gudang ternak. Dia mendengarkan cerita tentang kelahiran-Nya berulang-ulang dengan rasa kagum dan hormat.

Malam ini Alma merasa sangat bahagia. Program Natal Tahunan di gerejanya mengundang hampir seluruh keluarga yang tinggal di sebuah sisi bukit kecil, desa Pennsylvania itu untuk bernatalan di gereja. Alma, bersama ibu dan adik-adiknya, berjalan menuruni jalanan desa yang panjang, melalui salju tebal yang telah disesaki oleh kereta gerobak dan salju yang ditarik oleh kuda. Suasana Norman Rockwell tergambar saat itu, saat-saat Amerika permulaan, cuaca yang dingin, malam di musim dingin yang mempercepat langkah-langkah kaki manusia, namun menyegarkan jiwa.

Setelah duduk di dalam gereja, Alma memandang ke sekelilingnya. Murid-murid sekolah minggu telah menghias pohon natal yang berdiri di depan altar di dekat piano. Lilin-lilin di pohon natal itu memberikan sebuah cahaya lembut ke bagian atas gereja. Kemudian pendeta membaca kisah tentang kelahiran Jesus, kemudian mengundang setiap orang menyanyikan kidung puji-pujian setelah lagu-lagu Natal. Seorang pembantu gereja (penatua) memberikan kepada masing-masing anak kecil sejumlah cokelat dan permen yang dibungkus dalam sebuah kertas serbet dan diikat dengan pita merah.

Di bawah pohon Natal, terdapat tumpukan kado Natal yang tinggi. Saat itu merupakan kebiasaan bagi para keluarga untuk membawa hadiah mereka – yang akan diberikan kepada anggota keluarga yang lain dan teman – ke gereja dan hadiah itu akan dibuka di depan semua jemaat yang hadir. Tidak pernah lepas dari perhatian Alma, bahwa seperti biasanya, ibunya tidak membawa hadiah apa pun dan Alma pun tidak berharap apa-apa. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Hal ini karena ayahnya adalah seorang penebang kayu dan seorang pengumpul ginseng. Ketika ayahnya pulang, uang yang tersedia sangat sedikit.

Akhirnya, pendeta berjalan menuju pohon Natal, mengambil kado pertama dan berkata,”Kado ini untuk Blanche dari kedua orang tuanya”. Semua orang bertepuk tangan ketika Blanche dengan gembira berjalan ke depan untuk menerima hadiah. Hadiah itu berupa switer indah berwarna putih yang dijahit dengan tangan.

Pendeta mengambil kado demi kado, memanggil hampir setiap orang yang  ada di gereja. Semua anak laki-laki mendapatkan kereta api mainan  yang terbuat dari ukiran kayu dari ayah mereka; kereta salju mainan baru diangkat tinggi-tinggi oleh pendeta supaya dilihat oleh semua jemaat;berbotol-botol parfum dengan merek “April in Paris” dipersembahkan oleh para anak perempuan kepada ibu mereka. Sebuah gangsing dengan warna merah menyala berputar mengitari lantai kayu gereja. Semua memandang dengan gembira. Alma pun ikut tertawa dan bertepuk tangan. Dan dia menunggu dan menunggu kado dari pendeta.

Akhirnya, pendeta pun mengambil kado terakhir. Alma menahan napas. Kado ini pasti untuknya;boneka yang seringkali ia doakan. “Christine,” pendeta memanggil sebuah nama,”kado ini untukmu”. Christine membuka kotak yang panjang dan sempit itu dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah boneka porselin besar dengan rambut blonde, mengenakan gaun panjang merah muda dan topi yang sesuai. Christine memeluk boneka itu dengan erat, dan berlari ke arah ayah-ibunya untuk berterima kasih atas hadiah mewah itu.
Alma berdiri dengan tenang ketika lagu puji-pujian terakhir dinyanyikan dan setiap anak dengan satu lengan penuh berjuang membawa kado-kado itu ke kereta mereka. Akhirnya, Alma mengikuti keluarganya keluar dari gereja dan memulai perjalanan panjang ke rumah.

Dengan cepat, dia berjalan ke arah sebuah tonggak kayu dimana kuda  biasa ditambatkan, dan tanpa sengaja menabrakkan keningnya hingga
terjatuh ke belakang ke arah gumpalan salju. Dengan rasa bingung, ia kembali berdiri dan berjalan sempoyongan untuk bergabung dengan keluarganya yang sama sekali tidak melihatnya jatuh. Sebuah benjolan seperti telur dengan cepat membesar di keningnya, sebuah benjolan tulang yang tetap terlihat jelas sepanjang hidupnya. Namun, Alma terlihat seperti menganggapnya layaknya sebuah lencana kehormatan  dan dengan tertawa menyebutnya sebagai kado Natal di tahun 1907.  Alma tidak menganggap kecelakaan itu sebagai kenangan pahit, tapi  sebagai sebuah kemenangan. Alma, seorang penganut Kristiani yang  bahagia sepanjang hidupnya hingga meninggal di usia yang ke 96.

Catatan :
Alma adalah ibu dari Mariane Holbrook, seorang pensiunan guru, pengarang dua buku, seorang musisi dan seniman. Dia tinggal bersama suaminya di Pantai Carolina Utara.

Dua BAYI dalam palungan

|0 komentar
Di tahun 1994, dua orang Amerika menanggapi undangan Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di sekolah-sekolah umum. Mereka diundang mengajar di penjara-penjara, kantor-kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran, dan disebuah tempat yatim piatu yang besar.

Ada sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan penghuni di situ, yang terbuang, ditinggalkan dan sekarang ditampung dalam program pemerintah. Beginilah kisah dalam kata-kata mereka:
Waktu itu mendekati musim libur tahun 1994, sewaktu anak-anak yatim piatu kita - untuk pertama kalinya - mendengar kisah Natal. Kami cerita soal Maria dan Jusuf, yang sesampai di Bethlehem, sebab tak mendapat penginapan, lalu pergi kesebuah kandang binatang, dimana bayi Yesus lahir dan diletakkan dalam sebuah palungan.

Sepanjang cerita itu, anak-anak maupun staf rumah yatim itu terpukau diam, terpaku takjub mendengarkan. Beberapa diantaranya bahkan duduk diujung depan sekali kursi mereka seakan agar bisa lebih menangkap tiap kata. Seusai ceriteranya semua anak-anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan, juga sehelai kertas persegi, dan sedikit sobekan kertas napkin berwarna kuning yang kami bawa. Maklum, masa itu kertas berwarna sedang langka dikota ini.
Sesuai petunjuk anak-anak itu menyobek kertasnya, lantas dengan hati-hati, menyusun sobekan pita-pita seakan-akan jerami kuning dipalungan. Potongan-potongan kecil kain flanel - digunting dari gaun-malam bekas dari seorang ibu Amerika saat meninggalkan Rusia - dipakai sebagai selimut kecil bayi itu. Bayi mirip bonekapun digunting dari lembaran kulit tipis yang kami bawa dari Amerika.

Mereka semua sibuk menyusun palungan masing-masing saat aku berjalan keliling, memperhatikan kalau-kalau ada yang butuh bantuan. Semuanya kelihatan beres, sampai aku tiba dimeja sikecil Misha (seorang anak laki-laki). Kelihatannya ia sekitar 6 tahun dan sudah menyelesaikan proyeknya.
Sewaktu kulihat palungan bocah kecil ini, saya heran bahwa bukannya satu, melainkan ada dua bayi didalamnya. Cepat kupanggil penterjemah agar menanyai anak ini kenapa ada dua bayi.
Dengan melipat tangannya dan mata menatap hasil karyanya, anak ini mulai mengulang kisah Natal dengan amat serius.
Untuk anak semuda dia yang baru sekali mendengar kisah Natal, ia mengurutkan semua kejadian demikian cermat dan telitinya - sampai pada bagian kisah dimana Maria meletakkan bayi itu kedalam palungan. Di sini si Misha mengubahnya. Ia membuat penutup akhir kisah ini demikian:

"Sewaktu Maria menaruh bayi itu dipalungan, Yesus lalu melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal. Aku bilang aku tak punya mama dan tak punya papa, jadi aku tak punya tempat untuk tinggal. Lalu Yesus bilang aku sih boleh tinggal sama dia. Tapi aku bilang tidak bisa, sebab aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah seperti orang-orang dalam kisah itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamanya, jadi aku pikir, apa yah yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah. Aku pikir barangkali kalau aku bantu menghangatkan dia, itu bisa jadi hadiah."
"Jadi aku bertanya pada Yesus, 'Kalau aku menghangatkanmu, cukup tidak itu sebagai kado?' Dan Yesus menjawab, 'Kalau kamu menjaga dan menghangatkan aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun padaku.' Jadi begitu, terus aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus melihatku dan bilang aku boleh kok tinggal bersamanya - untuk selamanya."

Saat sikecil Misha berhenti bercerita, air matanya menggenang meluber jatuh membasahi pipinya yang kecil. Wajahnya ia tutupi dengan tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke meja dan seluruh tubuh dan pundaknya gemetar saat ia menangis tersedu.

Yatim piatu kecil ini telah menemukan seseorang yang takkan pernah melupakan atau meninggalkannya, yang takkan pernah berbuat zalim padanya, seseorang yang akan tetap tinggal dan menemaninya - untuk selamanya.

Hadiah NATAL terINDAH........

|0 komentar


Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yg rendah, pria
berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yg miskin.

Dan bagi seseorang yg hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari,
natal tidak banyak berbeda dengan hari2 lainnya, karenanya apa yg terjadi
pada suatu malam natal itu tidak banyak yg diingatnya. Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yg berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yg pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis keBaldwin dimana dia mungkinmendapatkan pekerjaan untuk
ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.Maka menjelang malam, ketika lonceng & lagu2 natal terdengar dimana2, dan  senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yg akan membawanya ke Baldwin



Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yg menyakitkan dan perut Egar
mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan
untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh
banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti.

‘Lagipula,’ pikirnya, ’sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan
orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari
biasanya.’ Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta
mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu
adalah pesta kanak2. Ratusan murid taman kanak2 dengan baju berwarna-warni
bermain-main dengan begitu riang. Orangtua mereka saling mengobrol satu sama
lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak
di tengah2 ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan
mencapai puluhan mobil2 mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak
ratusan hadiah2 natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja
raksasa tersusun puluhan piring2 yg berisi bermacam-macam makanan dan
minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras.

Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat
seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan
penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor & tangannya
gemetar. ‘Minta ampun nona kecil,’ Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya,’
udara begitu dingin. Dimana orangtuamu?’ Gadis itu tidak bicara apa2. Ia
hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak2 kecil di
dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas
masuk kedalam ruangan. ‘Sayang kau tidak bisa didalam sana


Egar menarik napas. Ia merasa begitu
kasihan pada gadis itu. Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam2.
Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak2, dan mereka meloncat
kesana-sini, memamerkan hadiah2 kepada orangtua mereka yg terus tertawa.

Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah
itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar dimatanya. Pada
saat yg bersamaan Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi.

Egar tidak bisa lagi menahan hatinya. Ia memegang tangan gadis itu &
berkata ‘Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu.’

‘Sungguh ?’ gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya. ‘Ya. Tapi kita
akan mengisi perut dulu.’ Ia membawa gadis itu diatas bahunya dan berjalan
ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah
roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil
makan ia mencari tahu tentang gadis itu.

Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya
bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke
rumah anak yatim St. Carolus, sebuah sekolah kecil yg dibiayai pemerintah
untuk anak2 miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan
malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.

Sementara mereka bercakap2, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yg bisa
didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 dikantongnya. Ia
mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar
bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko2 yg buka disaat ini, dan yg
bukapun umumnya menaikkan harga2 mereka. Ia amat ragu2 apakah ia bisa
membeli sesuatu seharga $5.

Apapun yg terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini
hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri.

Kalung yg melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yg paling berharga.
Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga
ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum
kematiannya.


Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yg punya sesuatu seharga
$5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yg
agak gelap di ujung jalan, dengan tanda ‘BUKA’ di atas pintu.

Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan
mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat2, tanpa peduli akan
baju2 mereka yg lusuh.

Mereka mulai melihat barang2 di balik kaca & mencari2 sesuatu yg mereka
sendiri belum tahu. Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang,
deretan kotak pensil, dan semua barang2 kecil yg tidak pernah dimilikinya.

Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat
seuntai kalung. Kening Egar berkerut. Apakah itu kebetulan, atau natal
selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis
sama dengan kalung Egar.

Dengan suara takut2 Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang
pria tua dengan cahaya terang dimatanya dan jenggot yg lebih memutih,
mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum.

Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk
dibandingkan pada kalung itu. ‘Yesus Kristus,’ Egar mengguman,’begitu sama
dan serupa.’ Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan
sama bentuk salib yg tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnyapun hampir
sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya
tercetak: ‘Imitasi : Tembaga’.

‘Samakah mereka?’ Ellis bertanya dengan nada kekanak2an. Baginya kalung itu
begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan
menjadi hadiah natal yg paling sempurna, kalau saja……kalau saja…….

"Berapa harganya, Pak ?" tanya Egar dengan suara serak karena
lidahnya
kering. "Sepuluh dollar." kata pemilik toko. Hilang sudah harapan
mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu
berganti2, dan ia melihat Ellis yg tidak pernah melepaskan matanya dari
kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut "Berapa yg anda
punya, Pak ?" Egar menggelengkan kepalanya "Bahkan tidak sampai $5." Senyum pemilik
toko  semakin mengembang "Kalung itu milik kalian dengan harga $4." Baik
Egar  maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya.
"Bukankah sekarang hari Natal

?" Orang tua itu tersenyum lagi, "Bahkan bila
kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak
pembeli saya yg ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis."

"Benar2 semangat natal." Pikir Egar dalam hati. Selama 5 menit orang
tua itu mencetak pesan berikut dibalik bandul : "Selamat Natal, Ellis Salam
Sayang, Sinterklas"


Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yg paling
sempurna seumur hidupnya. Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang
tua itu dan mengalungkan kalung itu keleher Ellis. Ellis hampir menangis
karena bahagia.

"Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal." kata Egar
kepada orang tua itu. "Selamat natal teman2ku." Jawab pemilik toko,
senantiasa tersenyum. Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih
deras tapi mereka merasakan kehangatan didalam tubuh. Bintang2 mulai muncul
di langit, dan sinar2 mereka membuat salju di jalan raya kebiru2an. Egar
memondong gadis itu diatas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah
yg lain. Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa
riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yg paling memuaskan
untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yg berharga
di lehernya, merasakan kegembiraan natal yg pertama dalam hidupnya.

Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di
atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu
ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.

"Sekarang pulanglah, Ellis. Hati2 dijalan. Tuhan memberkatimu
selalu."
"Kemana anda pergi, Pak ?" tanya Ellis pada orang asing yg baik hati
itu.

"Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yg rajin.
Selamat natal, sayang." Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis
mengucapkan terima kasih dengan suaranya yg kecil, tersenyum dan berlari2
kecil ke asramanya. Kebahagiaan yg amat sangat membuat gadis kecil itu lupa
menanyakan nama teman barunya.

Egar merasa begitu hangat didalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan
menuju ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya
kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih
kosong.

"Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun.
Sekarang malam natal." Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar
salam natal ia duduk di kursi kesukaannya. Bis bergerak, dan Egar membelai
kalung yg ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu
dilehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat.

Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika
ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yg
baru diukir dibalik bandulnya :

"Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk
Ellis……

***
Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam
usahanya mencari pekerjaan yg lebih baik, ia harus terus menerus berpindah
dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan
di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia masih belum bisa
menemukan pekerjaan yg cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan
kecil atau kentang goreng. Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari & hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak
begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah
sakit karena pingsan kecapaian.

Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong
dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di
rumah sakit milik pemerintah.

Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu2 natal,
denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.

Direktur rumah sakit itu, yg menyempatkan diri menyalami pasien2nya, sedang
bersiap2 untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang
terbuka sedikit.

Ia memeriksa buku ditangannya & mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya

kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan
menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yg
tergeletak diatas ranjang, disebelah sapu2 & kain lap. Tapi perhatiannya
tersedot pada sesuatu yg bersinar suram didadanya, yg memantulkan sinar
lampu yg menerobos masuk lewat pintu yg terbuka.

Dia mendekat dan mulai melihat benda yg bersinar itu, yaitu bandul kalung yg
sudah kehitam2an karena kualitas logam yg tidak baik. Tapi sesuatu pada
kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati2 ia memeriksa bandul itu
dan membaca kalimat yg tercetak dibaliknya.

"Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yg paling diharapkan untuk
bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yg membuat masa kanak2nya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yg membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada didunia ini.

Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yg terlatih
memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak
cepat ke kantornya. Malam natal yg sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan
mendadak dan bunyi detak langkah2 kaki puluhan perawat & dokter jaga.

"Jangan kuatir, Pak…. Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan
Ellis akan mengurus Sinterklasnya yg tersayang." Dia menyentuh kalung di
lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan
terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar. Ia merasa begitu kuat,
perasaan yg didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak
harus bertanya2 lagi karena ia baru saja menemukan orang yg memberinya
hadiah natal yg paling sempurna sepanjang segala jaman……….

CINTA & WAKTU...

|1 komentar

Di sebuah pulau yg terasing dr khdpn manusia,hdplah perasaan" layakny manusia,bernama KEGEMBIRAAN, KESEDIHAN, PENGETAHUAN, KEKAYAAN,CINTA,Dll. 
Mereka hdp dgn aman dan damai d pulau tsb hingga suatu hari terdengar kabar bhw pulau tsb akan tenggelam. Seisi pulau mempersiapkan diri u/ meninggalkan pulau,hingga ketika tiba wktny pulau perlahan mulai tenggelam. Mereka brkt dg kendaraanny masing",kecuali CINTA yg memutuskan u/ tinggal. Namun saat pulau tsb sdh mulai separuhnya tenggelam, CINTA pun berteriak memanggil siapa saja yg lewat.

"KEKAYAAN, dapatkah kau membawaku pergi?" tanya CINTA pada KEKAYAAN yg lewat dg balon udara yg penuh berisi emas."Maaf CINTA terlalu banyak emas di balon udaraku,aku tdk bisa menolongmu." tolak KEKAYAAN. Dan KEKAYAAN pun berlalu terbang meninggi.

Tak lama kemudian KESEDIHAN lewat dg perahunya."KESEDIHAN,dapat kah kau menolongku keluar dari sini?" tanya CINTA pada KESEDIHAN. KESEDIHAN menjawab "Maaf CINTA,aku terlebih sedih u/ membawamu,aku memilih u/ pergi dg kesendirianku." KESEDIHAN pun berlalu menjauh.

CINTA masih menunggu hingga kemudian KEGEMBIRAAN lewat dg pesawat kecilnya. "KEGEMBIRAAN,bawalah aku bersamamu!" teriak CINTA memanggil. Namun KEGEMBIRAAN terlalu gembira hingga ia tdk mendengar.

Akhirnya,CINTA merasa putus asa,hampir saja ia menyerah dan pasrah akan tenggelam bersama pulau, hingga ia mendengar satu suara memanggilnya. "Marilah, CINTA ikut dg ku." Seorang tua yg menaiki sampan butut,menghampirinya. CINTA merasa senang dan terselamatkan, ia pun naik sampan bersama si tua itu. Hingga mereka sampai di pulau kering di mana yg lain sudah berkumpul.

CINTA begitu senang hingga lupa menanyakan nama si tua yg terus berlalu. Hingga suatu saat CINTA teringat pada si tua itu,ia pun mendatangi seorang tua lainnya bernama PENGETAHUAN, dan menanyakan siapakah si tua yg telah menolongnya." namanya adalah waktu", "Kenapa WAKTU?" Mau menolongku? Tanya CINTA kemudian, PENGETAHUAN tersenyum bijak dan berkata,"Karena hanya WAKTU yg dpt mengerti betapa besar dan berartinya CINTA...."

Kisah Natal: Boneka untuk ADIK ku

|1 komentar
* Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus kutuju" "Natal benar2 semakin menjengkelkan dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan, dan di sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya semua anak akan sungguh-sungguh bermaindengan mainan yang mahal.

* Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki2 berusia sekitar 5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka itu dan terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka itu. Anak itu mendekati seorang perempuan tua di dekatnya: 'Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?' Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta anak itu menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat lain. Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

* Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia ingin memberikan boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin Santa Claus akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki2 itu menjawab dengan sedih 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat ini. Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat memberikan kepadanya ketika mama sampai di sana.' Mata anak laki2 itu begitu sedih ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan. Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira mama dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku seakan terhenti.

* Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk memberitahu mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu hingga aku pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya yang sedang tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama membawa foto ini supaya tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku tapi papa berkata mama harus pergi bersama adikku.' Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.

* Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau2 uangmu cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan uangku pada uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima Kasih
Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan menambahkan: 'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi aku tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku cukup untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar putih'

* Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan keretaku. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal 2 hari yang lalu, yang menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal seketika, dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2 ini?

* 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran bahwa wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan diriku dan pergi membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah duka tempat jenasah dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu di sana, dalam peti matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik dengan foto anak laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan menangis, merasa hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang dimiliki anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit untuk dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya dari anak itu.

Sudahkah Anda bersyukur untuk pasangan Anda hari ini....????

|0 komentar
(Forward dari email teman)
 

"Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil: karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor, karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah hari ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan.
Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang.
Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan.

Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!
Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.
Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya. Aku langsung masuk ke kamar.

Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu.
Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya.
Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996: "Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku".
Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001: "Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati". Jantungku serasa mau berhenti...

23 Oktober 2001: "Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui". Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan;dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002: "Aku dihampiri wanita bernama Melly, ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya". Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu. Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya? Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002: "Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil".

14 Februari 2003: "Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!"

18 Juli 2005: "Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku".

7 April 2006: "Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada di mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah."

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007: "Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent. Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga. Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun. "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun."

Pria seringkali egois, lambat dan kurang tanggap dalam menanggapi pengorbanan dan kebaikan yang telah dilakukan oleh isterinya. Marilah kita belajar tanggap untuk hal-hal positif yang telah dilakukan oleh isteri/anak kita, berilah pujian, penghargaan, tinggalkanlah sikap menuntut untuk dihormati, dilayani. Mulailah mengucap syukur untuk pemberian Tuhan yang terindah dalam hidupmu.

JANGAN ''NGAMBEK'' BERKEPANJANGAN PADA ORANG TERKASIH...

|0 komentar

Tentang KeSENDIRIan..........

|1 komentar

Pernahkah kau merasakan saat dimana kau sangat sendirian?
Seakan kesepian menjadi teman akrab yang memelukmu erat
Saat kau tak berdaya melihat -dia- menjauh di depan mata


Dan kau terus berfikir, semua yang terjadi adalah salahmu.Pada setiap malam yang membelai, kau merindukannya Berbicara pada cermin dengan kata-kata yang tak pernah bisa kau ungkap dihadapannya
tangisan pun iringi tidurmu
lagu-lagu radio masukkan kenangan-kenangan dalam mimpimu
jadikan nyata-sadar mu sebagai mimpi burukmu


Tiba sang mentari menjemputmu
membawa kau ke tempat yang sama dengan nya
namun kembali kau tak berdaya
egomu pun pakaikan topeng seorang yang tegar sendiri dan tak pertnah peduli sekitar, hingga…….
Kau tak bisa kembali menjadi dekat lagi dengan nya tuk kesekian kalinya
Tak dapat rasakan hangatnya tuk setiap harinya
Kembali –kau-
Melihat dia bersama yang lainnya, mereka yang kini selalu buat dia tertawa
Mengetahui akhirnya dia miliki kembali sosok yang benar-benar dapat mengaguminya
Menyaksikannya, berdua bercurah dengan kekasih yang dapat menjaganya

Entah bagaimana
Kaua merasa kosong, tak pernah ada atau mati tak berarti
Hati teriris,perih,sesak,hampa…
Melebihi sakitnya kehilangan kekasih
(walau ku tak punya kekasih ku yakin rasa itu, karena kini-nanti dialah satu diantara orang yang yang ku kasihi yang paling berikan arti di hati- di hidup)

Saat diri dangkal, keluh kesah meluap
Ada suara hati coba hibur diri
“setidaknya kini -dia- mendapat banyak hal yang lebih baik gantikan mu”
“bukankah seharusnya kau bahagia untuk nya”
“jika saat bersamamu, kau tahu….”
“Hanya sunyi yang ada, slalu ada yang dikorbankan, pasti kisah sendu yang terungkap
Lihat, hidupnya tak sebaik saat ini”….

Dan kau ingin pastikan “benarkah itu?”
Kau termenung dan bingung
“lalu apa yang harus ku lakukan, merelakan dan lepaskannya begitu saja?”….
“lalu menjadi seperti topeng yang ku pakai?!”
“jadi, tuk apa hati sebaik kau ku punya….jika diri kan banyak kehilangan”
Kau semakin tak megerti dan dapatkan ketidakpuasan

Suara hati hanya menghela nafas panjang dan rasa kasihan
Lalu berlalu menggantungkan kembali Tanya di pundakmu
Yang kini tak bisa tegak berdiri kembali
Sekan dia percaya kau kan dapatkan jawaban dari otak yang bijak
Tapi, sungguh dia tak tahu kepala ini hanya berisi mimpi!!!

Akhirnya kau pun tenggelam dalam bimbang dan kehilangan kepercayaan
Walau masih menganga harapkan jawaban atas segala Tanya……
………….tuk sementara ini ku ucap selamat tinggal!!!!
Apa ini benar????

Sebelum Kamu Menceraikanku, Gendonglah Aku ......

|0 komentar
for everyone

Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti
didepan flat kami yang cuma berkamar satu. sahabat-sahabatku menyuruhku
untuk  membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia.
Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu.

Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami
berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yang bersamaan.
Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yang cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartment yang kubelikan untuknya.  Dew berkata , "Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis." Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku
pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis." Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu- ragu. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, OK.?
.Aku ada sedikit urusan dikantor" Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.

Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yang  baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV.Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan
bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan? "  Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh darinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku.
Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk  menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia. Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya," Ada sesuatu yang harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "Aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.

Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut, "kenapa?" "Aku serius." Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki- laki!".

Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa
pergi oleh Dew. Dengan perasaan yang amat bersalah, Aku menuliskan surat perceraian dimana  istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yang telah 10 tahun hidup
bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku,
tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya. Ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan
itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.

Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga  kami.

Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?" Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku.
Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "Jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi
kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu."

Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.
Aku memberitahukan Dew soal syarat- syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh.

Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing.
Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"Wah, papa membopong mama, mesra sekali" Kata-katanya membuatku merasa sakit.. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," Mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia
di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi dibajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi, beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "Kebun diluar sedang dibongkar,
hati- hati kalau kamu lewat sana ."

Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku. Bayangan Dew menjadi samar.
Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti, dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak,dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.
Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata adanya, "Kelihatanya tidaklah sulit membopongmu sekarang" Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat, "Semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku
sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. "Pa,sudah waktunya membopong mama keluar"

Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yang penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan
kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, "Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua".
Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra". Aku melompat turun dari mobil tanpa Sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. "Kamu tidak demam".
Kutepiskan tanganya dari dahiku "Maaf, Dew,Aku Cuma bisa bilang maaf  padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku
membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu" Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan
kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku.

Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu
ucapan? Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua..."

MenCINTAi Apa Adanya

|0 komentar
Tahun itu dia mendadak muncul, Xiao Cien namanya. Tampangnya tidak seberapa. Di bawah dukungan teman sekamar, dengan memaksakan diri aku bersahabat dengan dia. Secara perlahan, aku mendapati bahwa dia adalah orang yang penuh pengertian dan lemah lembut.

Hari berlalu, hubungan kami semakin dekat, perasaan di antara kami semakin menguat, dan juga mendapat dukungan dari teman-teman.

Pada suatu hari di tahun kelulusan kami, dia berkata padaku, "Saya telah mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi, tetapi di Amerika, dan saya tidak tahu akan pergi berapa lama, kita bertunangan dulu, bolehkah?"

Mungkin dalam keadaan tidak rela melepas kepergiannya, saya mengangguk.

Oleh karena itu, sehari sesudah hari wisuda, hari itu menjadi hari pertunangan kami berdua. Setelah bertunangan tidak berapa lama, bersamaan dengan ucapan selamat dan perasaan berat hati dalam hatiku, dia menaiki pesawat dan terbang menuju sebuah negara yang asing. Saya juga mendapatkan sebuah pekerjaan yang bagus, memulai hari bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Telepon internasional merupakan cara kami untuk tetap berhubungan dan melepas kerinduan.

Suatu hari, sebuah hal yang naas terjadi pada diriku. Pagi hari, dalam perjalanan menuju tempat kerja, sebuah taksi demi menghindari sebuah anjing di jalan raya, mendadak menikung tajam.....

Tidak tahu lewat berapa lama saya pingsan. Saat siuman telah berada di rumah sakit, dimana anggota keluarga menunggu mengelilingi tempat tidur saya. Mereka lantas memanggil dokter.

"Pa?" saya ingin memanggilnya tapi tidak ada suara yg keluar.

Mengapa? Mengapa saya tidak dapat memanggilnya? Dokter mendatangiku dan memeriksa, suster menyuntikkan sebuah serum ke dalam diriku, mempersilahkan yang lainnya untuk keluar terlebih dahulu.

Ketika siuman kembali, yang terlihat adalah raut wajah yang sedih dari setiap orang, sebenarnya apa yang terjadi. Mengapa saya tidak dapat bersuara?

Ayah dengan sedihnya berkata, "Dokter bilang syaraf kamu mengalami luka, untuk sementara tidak dapat bersuara, lewat beberapa waktu akan membaik."

"Saya tidak mau!" saya dengan berusaha memukul ranjang, membuka mulut lebar-lebar berteriak, tapi hanya merupakan sebuah protes yang tidak bersuara.

Setelah kembali ke rumah, kehidupanku berubah. Suara telepon yang didambakan waktu itu, merupakan suara yang sangat menakutkan sekarang ini. Saya tidak lagi keluar rumah, juga menjadi seorang yang menyia-nyiakan diri, ayah mulai berpikir untuk pindah rumah.

Dan dia? di belahan bumi yang lain, yang diketahui hanyalah saya telah membatalkan pertunangan kami, setiap telepon darinya tidak mendapatkan jawaban, setiap surat yang ditulisnya bagaikan batu yang tenggelam ke dasar lautan.

Dua tahun telah berlalu, saya secara perlahan telah dapat keluar dari masa yang gelap ini, memulai hidup baru, juga mulai belajar bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Suatu hari, Xiao Cien memberitahu bahwa dia telah kembali, sekarang bekerja sebagai seorang insinyur di sebuah perusahaan. Saya berdiam diri, tidak mengatakan apapun. Mendadak bel pintu berbunyi, berulang-ulang dan terdengar tergesa-gesa. Tidak tahu harus berbuat apa, ayah menyeretkan langkah kakinya yang berat, pergi membuka pintu.

Saat itu, di dalam rumah mendadak hening. Dia telah muncul, berdiri di depan pintu rumahku. Dia mengambil napas yang dalam, dengan perlahan berjalan ke hadapanku.

Dengan bahasa isyarat yang terlatih, dia berkata, "Maafkan saya! Saya terlambat satu tahun baru menemuimu. Dalam satu tahun ini, saya berusaha dengan keras untuk mempelajari bahasa isyarat, demi untuk hari ini. Tidak peduli kamu berubah menjadi apapun, selamanya kamu merupakan orang yang paling kucintai. Selain kamu, saya tidak akan mencintai orang lain, marilah kita menikah!"

Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita.

|0 komentar
Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.

Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria
berkata ingin menjadi matahari.

Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu
kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga.

Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap
menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan
tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari.

Wanita berkata ingin menjadi Phoenix yang bisa terbang ke langit
jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi
matahari.

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah 3x namun
pria tetap keras kepala ingin jadi matahari tanpa mau ikut berubah
bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari.

Pria merenung sendiri dan menatap matahari.

Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat
terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga
agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang
cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan
pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut
kasih yaitu memberi tanpa pamrih.

Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari agar bulan dapat
terus bersinar indah dan dikagumi.

Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi
saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat kepada
matahari. Matahari rela memberikan cahaya nya untuk bulan walaupun
ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan
kehilangan kemuliaan nya sebagai pemberi cahaya agar bulan
mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini disebut dengan Pengorbanan,
menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.

Saat wanita jadi Phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit
bahkan di atas matahari, pria tetap selalu jadi matahari agar
Phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan
mencegahnya.

Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari
akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya
untuk phoenix.

Matahari selalu ada untuk Phoenix kapan pun ia mau kembali walau
phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain
selain Phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan
cinta nya. Ini disebut dengan Kesetiaan, walaupun ditinggal pergi
dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan.

Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita.

Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN

|2 komentar
Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.
Ayah hanya menyuruhmu mengerjakan pekerjaan yang kamu sukai.
Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.
Ayah tidak ada di album foto keluarga, karena dia yang selalu memotret.
Ayah selalu tepat janji! Dia akan memegang janjinya untuk membantu seorang teman, meskipun ajakanmu untuk pergi memancing sebenarnya lebih menyenangkan.
Ayah akan tetap memasang kereta api listrik mainanmu selama bertahun-tahun, meskipun kamu telah bosan, karena ia tetap ingin kamu main kereta api itu.
Ayah selalu sedikit sedih ketika melihat anak-anaknya pergi bermain dengan teman-teman mereka. Karena dia sadar itu adalah akhir masa kecil mereka.
Ayah mulai merencanakan hidupmu ketika tahu bahwa ibumu hamil, tapi begitu kamu lahir, ia mulai membuat revisi.
Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.
Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.
Ayah mungkin tampak galak di matamu, tetapi di mata teman-temanmu dia tampak lucu dan menyayangi.
Ayah sulit menghadapi rambutnya yang mulai menipis…. jadi dia menyalahkan tukang cukurnya menggunting terlalu banyak di puncak kepala (*_~).
Ayah akan selalu memelihara janggut lebatnya, meski telah memutih, agar kau bisa “melihat” para malaikat bergelantungan di sana dan agar kau selalu bisa mengenalinya.
Ayah selalu senang membantumu menyelesaikan PR, kecuali PR matematika terbaru.
Ayah lambat mendapat teman, tapi dia bersahabat seumur hidup.
Ayah benar-benar senang membantu seseorang… tapi ia sukar meminta bantuan.
Ayah terlalu lama menunda untuk membawa mobil ke bengkel, karena ia merasa dapat memperbaiki sendiri segalanya.
Ayah di dapur. Membuat memasak seperti penjelajahan ilmiah. Dia punya rumus-rumus dan formula racikannya sendiri, dan hanya dia sendiri yang mengerti bagaimana menyelesaikan persamaan-persamaan rumit itu. Dan hasilnya?…. mmmmhhh…” tidak terlalu mengecewakan” (^_~).
Ayah akan sesumbar, bahwa dirinyalah satu- satunya dalam keluarga yang dapat memasak tumis kangkung rasa barbecue grill. (*_~).
Ayah mungkin tidak pernah menyentuh sapu ketika masih muda, tapi ia bisa belajar dengan cepat.
Ayah sangat senang kalau seluruh keluarga berkumpul untuk makan malam… walaupun harus makan dalam remangnya lilin karena lampu mati.
Ayah paling tahu bagaimana mendorong ayunan cukup tinggi untuk membuatmu senang tapi tidak takut.
Ayah akan memberimu tempat duduk terbaik dengan mengangkatmu dibahunya, ketika pawai lewat.
Ayah tidak akan memanjakanmu ketika kamu sakit, tapi ia tidak akan tidur semalaman. Siapa tahu kamu membutuhkannya.
Ayah menganggap orang itu harus berdiri sendiri, jadi dia tidak mau memberitahumu apa yang harus kamu lakukan, tapi ia akan menyatakan rasa tidak setujunya.
Ayah percaya orang harus tepat waktu. karena itu dia selalu lebih awal menunggumu di depan rumah dengan sepeda tuanya, untuk mengantarkanmu dihari pertama masuk sekolah
AYAH ITU MURAH HATI…..
Ia akan melupakan apa yang ia inginkan, agar bisa memberikan apa yang kamu butuhkan…. .
Ia membiarkan orang-orangan sawahmu memakai sweater kesayangannya. ….
Ia membelikanmu lollipop merk baru yang kamu inginkan, dan ia akan menghabiskannya kalau kamu tidak suka…..
Ia menghentikan apasaja yang sedang dikerjakannya, kalau kamu ingin bicara…
Ia selalu berfikir dan bekerja keras untuk membayar spp mu tiap semester, meskipun kamu tidak pernah membantunya menghitung berapa banyak kerutan di dahinya….
Bahkan dia akan senang hati mendengarkan nasehatmu untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.. .. Ayah mengangkat beban berat dari bahumu dengan merengkuhkan tangannya disekeliling beban itu….
Ayah akan berkata “tanyakan saja pada ibumu” ketika ia ingin berkata “tidak”.
Ayah tidak pernah marah, tetapi mukanya akan sangat merah padam ketika anak gadisnya menginap di rumah teman tanpa izin
Dan diapun hampir tidak pernah marah, kecuali ketika anak lelakinya kepregok menghisap rokok dikamar mandi.
Ayah mengatakan “tidak apa-apa mengambil sedikit resiko asal kamu sanggup kehilangan apa yang kamu harapkan”
Pujian terbaik bagi seorang ayah adalah ketika dia melihatmu melakukan sesuatu persis seperti caranya….
Ayah lebih bangga pada prestasimu, daripada prestasinya sendiri….
Ayah hanya akan menyalamimu ketika pertama kali kamu pergi merantau meningalkan rumah, karena kalau dia sampai memeluk mungkin ia tidak akan pernah bisa melepaskannya.
Ayah mengira seratus adalah tip..; Seribu adalah uang saku..; Gaji pertamamu terlalu besar untuknya…
Ayah tidak suka meneteskan air mata …. ketika kamu lahir dan dia mendengar kamu menangis untuk pertama kalinya, dia sangat senang sampai-sampai keluar air dari matanya (ssst..tapi sekali lagi ini bukan menangis). Ketika kamu masih kecil, ia bisa memelukmu untuk mengusir rasa takutmu…ketika kau mimpi akan dibunuh monster… tapi…..ternyata dia bisa menangis dan tidak bisa tidur sepanjang malam, ketika anak gadis kesayangannya di rantau tak memberi kabar selama hampir satu bulan.
Kalau tidak salah ayah pernah berkata :” kalau kau ingin mendapatkan pedang yang tajam dan berkwalitas tinggi, janganlah mencarinya dipasar apalagi tukang loak, tapi datang dan pesanlah langsung dari pandai besinya. Begitupun dengan cinta dan teman dalam hidupmu,jika kau ingin mendapatkan cinta sejatimu kelak, maka minta dan pesanlah pada Yang Menciptakannya”
Untuk masadepan anak lelakinya Ayah berpesan: “jadilah lebih kuat dan tegar daripadaku, pilihlah ibu untuk anak-anakmu kelak wanita yang lebih baik dari ibumu , berikan yang lebih baik untuk menantu dan cucu-cucuku, daripada apa yang yang telah ku beri padamu”
Dan untuk masa depan anak gadisnya ayah berpesan: “jangan cengeng meski kau seorang wanita, jadilah selalu bidadari kecilku dan bidadari terbaik untuk ayah anak-anakmu kelak! laki-laki yang lebih bisa melindungimu melebihi perlindungan Ayah, tapi jangan pernah kau gantikan posisi Ayah di hatimu”
Ayah bersikeras,bahwa anak-anakmu kelak harus bersikap lebih baik daripada kamu dulu….
Ayah bisa membuatmu percaya diri… karena ia percaya padamu…
Ayah tidak mencoba menjadi yang terbaik, tapi dia hanya mencoba melakukan yang terbaik….
Dan terpenting adalah… Ayah tidak pernah menghalangimu untuk mencintai Tuhan, bahkan dia akan membentangkan seribu jalan agar kau dapat menggapai cintaNya, karena diapun mencintaimu karena cintaNya.
Dan untuk semua yang sedang merindukan Ayah, ssssssssttt…!
Tau gak siii? Ternyata ayah itu benar-benar MENAKJUBKAN