About

Hadiah NATAL terINDAH........



Nasib Egar tidak sebaik hatinya. Dengan pendidikannya yg rendah, pria
berumur sekitar 30 tahun itu hanya seorang pekerja bangunan yg miskin.

Dan bagi seseorang yg hanya berjuang hidup untuk melewati hari demi hari,
natal tidak banyak berbeda dengan hari2 lainnya, karenanya apa yg terjadi
pada suatu malam natal itu tidak banyak yg diingatnya. Malam itu di seluruh negeri berlangsung kemeriahan suasana natal. Setiap orang mempersiapkan diri menghadapi makan malam yg berlimpah. Tapi di kantong Egar hanya terdapat $10, jumlah yg pas-pasan untuk makan malamnya dan tiket bis keBaldwin dimana dia mungkinmendapatkan pekerjaan untuk
ongkos hidupnya selama beberapa berikutnya.Maka menjelang malam, ketika lonceng & lagu2 natal terdengar dimana2, dan  senyum dan salam natal diucapkan tiap menit, Egar menaikkan kerah bajunya dan menunggu kedatangan bis pukul 20:00 yg akan membawanya ke Baldwin



Salju turun deras. Suhu jatuh pada tingkat yg menyakitkan dan perut Egar
mulai berbunyi karena lapar. Ia melihat jam di stasiun, dan memutuskan
untuk membeli hamburger dan kentang goreng ukuran ekstra, karena ia butuh
banyak energi untuk memindahkan salju sepanjang malam nanti.

‘Lagipula,’ pikirnya, ’sekarang adalah malam natal, setiap orang, bahkan
orang seperti saya sekalipun, harus makan sedikit lebih special dari
biasanya.’ Di tengah jalan ia melewati sebuah bangunan raksasa, dimana sebuah pesta
mewah sedang berlangsung. Ia mengintip ke dalam jendela. Ternyata itu
adalah pesta kanak2. Ratusan murid taman kanak2 dengan baju berwarna-warni
bermain-main dengan begitu riang. Orangtua mereka saling mengobrol satu sama
lain, tertawa keras dan saling olok. Sebuah pohon terang raksasa terletak
di tengah2 ruangan, kerlap-kerlip lampunya memancar keluar jendela dan
mencapai puluhan mobil2 mewah di pekarangan. Di bawah pohon terang terletak
ratusan hadiah2 natal dalam bungkus berwarna-warni. Di atas beberapa meja
raksasa tersusun puluhan piring2 yg berisi bermacam-macam makanan dan
minuman, menyebabkan perut Egar berbunyi semakin keras.

Dan ia mendengar bunyi perut kosong di sebelahnya. Ia menoleh, dan melihat
seorang gadis kecil, berjaket tipis, dan melihat ke dalam ruangan dengan
penuh perhatian. Umurnya sekitar 10 tahun. Ia tampak kotor & tangannya
gemetar. ‘Minta ampun nona kecil,’ Egar bertanya dengan pandangan tidak percaya,’
udara begitu dingin. Dimana orangtuamu?’ Gadis itu tidak bicara apa2. Ia
hanya melirik Egar sesaat, kemudian memperhatikan kembali anak2 kecil di
dalam ruangan, yang kini bertepuk tangan dengan riuh karena Sinterklas
masuk kedalam ruangan. ‘Sayang kau tidak bisa didalam sana


Egar menarik napas. Ia merasa begitu
kasihan pada gadis itu. Keduanya kembali memperhatikan pesta dengan diam2.
Sinterklas sekarang membagi-bagikan hadiah pada anak2, dan mereka meloncat
kesana-sini, memamerkan hadiah2 kepada orangtua mereka yg terus tertawa.

Mata gadis itu bersinar. Jelas ia membayangkan memegang salah satu hadiah
itu, dan imajinasi itu cukup menimbulkan secercah sinar dimatanya. Pada
saat yg bersamaan Egar bisa mendengar bunyi perutnya lagi.

Egar tidak bisa lagi menahan hatinya. Ia memegang tangan gadis itu &
berkata ‘Mari, akan saya belikan sebuah hadiah untukmu.’

‘Sungguh ?’ gadis itu bertanya dengan nada tidak percaya. ‘Ya. Tapi kita
akan mengisi perut dulu.’ Ia membawa gadis itu diatas bahunya dan berjalan
ke sebuah depot kecil. Tanpa berpikir tentang tiket bisnya ia membeli 2 buah
roti sandwich, 2 bungkus kentang goreng dan 2 gelas susu coklat. Sambil
makan ia mencari tahu tentang gadis itu.

Namanya Ellis dan ia baru kembali dari sebuah toko minuman dimana ibunya
bekerja paruh waktu sebagai kasir. Dia sedang dalam perjalanan pulang ke
rumah anak yatim St. Carolus, sebuah sekolah kecil yg dibiayai pemerintah
untuk anak2 miskin. Ibunya baru memberinya sepotong roti tawar untuk makan
malamnya. Egar menyuruh gadis itu untuk menyimpan rotinya untuk besok.

Sementara mereka bercakap2, Egar terus berpikir tentang hadiah apa yg bisa
didapatnya untuk Ellis. Ia kini hanya punya sekitar $5 dikantongnya. Ia
mengenal sopir bis, dan ia yakin sopir itu akan setuju bila ia membayar
bisnya kali berikutnya. Tapi tidak banyak toko2 yg buka disaat ini, dan yg
bukapun umumnya menaikkan harga2 mereka. Ia amat ragu2 apakah ia bisa
membeli sesuatu seharga $5.

Apapun yg terjadi, katanya pada dirinya sendiri, saya akan memberi gadis ini
hadiah, walaupun itu kalung saya sendiri.

Kalung yg melingkari lehernya adalah milik terakhirnya yg paling berharga.
Kalung itu adalah 24 karat murni, sepanjang kurang lebih 30 cm, seharga
ratusan dollar. Ibunya memberinya kalung itu beberapa saat sebelum
kematiannya.


Mereka mengunjungi beberapa toko tapi tak satupun yg punya sesuatu seharga
$5. Tepat ketika mereka mulai putus asa, mereka melihat sebuah toko kecil yg
agak gelap di ujung jalan, dengan tanda ‘BUKA’ di atas pintu.

Bergegas mereka masuk ke dalam. Pemilik toko tersenyum melihat kedatangan
mereka, dan dengan ramah mempersilakan mereka melihat2, tanpa peduli akan
baju2 mereka yg lusuh.

Mereka mulai melihat barang2 di balik kaca & mencari2 sesuatu yg mereka
sendiri belum tahu. Mata Ellis bersinar melihat deretan boneka beruang,
deretan kotak pensil, dan semua barang2 kecil yg tidak pernah dimilikinya.

Dan di rak paling ujung, hampir tertutup oleh buku cerita, mereka melihat
seuntai kalung. Kening Egar berkerut. Apakah itu kebetulan, atau natal
selalu menghadirkan keajaiban, kalung bersinar itu tampak begitu persis
sama dengan kalung Egar.

Dengan suara takut2 Egar meminta melihat kalung itu. Pemilik toko, seorang
pria tua dengan cahaya terang dimatanya dan jenggot yg lebih memutih,
mengeluarkan kalung itu dengan tersenyum.

Tangan Egar gemetar ketika ia melepaskan kalungnya sendiri untuk
dibandingkan pada kalung itu. ‘Yesus Kristus,’ Egar mengguman,’begitu sama
dan serupa.’ Kedua kalung itu sama panjangnya, sama mode rantainya, dan
sama bentuk salib yg tertera diatas bandulnya. Bahkan beratnyapun hampir
sama. Hanya kalung kedua itu jelas kalung imitasi. Dibalik bandulnya
tercetak: ‘Imitasi : Tembaga’.

‘Samakah mereka?’ Ellis bertanya dengan nada kekanak2an. Baginya kalung itu
begitu indah sehingga ia tidak berani menyentuhnya. Sesungguhnya itu akan
menjadi hadiah natal yg paling sempurna, kalau saja……kalau saja…….

"Berapa harganya, Pak ?" tanya Egar dengan suara serak karena
lidahnya
kering. "Sepuluh dollar." kata pemilik toko. Hilang sudah harapan
mereka. Perlahan ia mengembalikan kalung itu. Pemilik toko melihat kedua orang itu
berganti2, dan ia melihat Ellis yg tidak pernah melepaskan matanya dari
kalung itu. Senyumnya timbul, dan ia bertanya lembut "Berapa yg anda
punya, Pak ?" Egar menggelengkan kepalanya "Bahkan tidak sampai $5." Senyum pemilik
toko  semakin mengembang "Kalung itu milik kalian dengan harga $4." Baik
Egar  maupun Ellis memandang orang tua itu dengan pandangan tidak percaya.
"Bukankah sekarang hari Natal

?" Orang tua itu tersenyum lagi, "Bahkan bila
kalian berkenan, saya bisa mencetak pesan apapun dibalik bandul itu. Banyak
pembeli saya yg ingin begitu. Tentu saja untuk kalian juga gratis."

"Benar2 semangat natal." Pikir Egar dalam hati. Selama 5 menit orang
tua itu mencetak pesan berikut dibalik bandul : "Selamat Natal, Ellis Salam
Sayang, Sinterklas"


Ketika semuanya beres, Egar merasa bahwa ia memegang hadiah natal yg paling
sempurna seumur hidupnya. Dengan tersenyum Egar menyerahkan $4 pada orang
tua itu dan mengalungkan kalung itu keleher Ellis. Ellis hampir menangis
karena bahagia.

"Terima kasih. Tuhan memberkati anda, Pak. Selamat Natal." kata Egar
kepada orang tua itu. "Selamat natal teman2ku." Jawab pemilik toko,
senantiasa tersenyum. Mereka berdua keluar dari toko dengan bahagia. Salju turun lebih
deras tapi mereka merasakan kehangatan didalam tubuh. Bintang2 mulai muncul
di langit, dan sinar2 mereka membuat salju di jalan raya kebiru2an. Egar
memondong gadis itu diatas bahunya dan meloncat dari satu langkah ke langkah
yg lain. Ia belum pernah merasa begitu puas dalam hidupnya. Melihat tawa
riang gadis itu, ia merasa telah mendapat hadiah natal yg paling memuaskan
untuk dirinya sendiri. Ellis, dengan perut kenyang dan hadiah yg berharga
di lehernya, merasakan kegembiraan natal yg pertama dalam hidupnya.

Mereka bermain dan tertawa selama setengah jam, sebelum Egar melihat jam di
atas gereja dan memutuskan bahwa ia harus pergi ke stasiun bis. Karena itu
ia membawa gadis itu ketempat dimana ia menemukannya.

"Sekarang pulanglah, Ellis. Hati2 dijalan. Tuhan memberkatimu
selalu."
"Kemana anda pergi, Pak ?" tanya Ellis pada orang asing yg baik hati
itu.

"Saya harus pergi bekerja. Ingat sedapat mungkin bersekolahlah yg rajin.
Selamat natal, sayang." Ia mencium kening gadis itu, dan berdiri. Ellis
mengucapkan terima kasih dengan suaranya yg kecil, tersenyum dan berlari2
kecil ke asramanya. Kebahagiaan yg amat sangat membuat gadis kecil itu lupa
menanyakan nama teman barunya.

Egar merasa begitu hangat didalam hatinya. Ia tertawa puas, dan berjalan
menuju ke stasiun bis. Pengemudi bis mengenalnya, dan sebelum Egar punya
kesempatan untuk bicara apapun, ia menunjuk salah satu bangku yg masih
kosong.

"Duduk di kursi kesukaanmu, saudaraku, dan jangan cemaskan apapun.
Sekarang malam natal." Egar mengucapkan terima kasih, dan setelah saling menukar
salam natal ia duduk di kursi kesukaannya. Bis bergerak, dan Egar membelai
kalung yg ada di dalam kantongnya. Ia tidak pernah mengenakan kalung itu
dilehernya, tapi ia punya kebiasaan untuk mengelus kalung itu setiap saat.

Dan kini ia merasakan perbedaan dalam rabaannya. Keningnya berkerut ketika
ia mengeluarkan kalung itu dari kantongnya, dan membaca sebuah kalimat yg
baru diukir dibalik bandulnya :

"Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Saat itu ia baru sadar bahwa ia telah keliru memberikan hadiah untuk
Ellis……

***
Selama 12 tahun berikutnya hidup memperlakukan Egar dengan amat keras. Dalam
usahanya mencari pekerjaan yg lebih baik, ia harus terus menerus berpindah
dari satu kota ke kota lainnya. Akhirnya ia bekerja sebagai pekerja bangunan
di Marengo, sekitar 1000 km dari kampung halamannya. Dan ia masih belum bisa
menemukan pekerjaan yg cukup baik untuk makan lebih dari sekedar makanan
kecil atau kentang goreng. Karena bekerja terlalu keras di bawah matahari & hujan salju, kesehatannya menurun drastis. Bahkan sebelum umurnya mencapai 45 tahun, ia sudah tampak
begitu tua dan kurus. Suatu hari menjelang natal, Egar digotong ke rumah
sakit karena pingsan kecapaian.

Hidup tampaknya akan berakhir untuk Egar. Tanpa uang sepeserpun di kantong
dan sanak famili yg menjenguk, ia kini terbaring di kamar paling suram di
rumah sakit milik pemerintah.

Malam natal itu, ketika setiap orang di dunia menyanyikan lagu2 natal,
denyut nadi Egar melemah, dan ia jatuh ke dalam alam tak sadar.

Direktur rumah sakit itu, yg menyempatkan diri menyalami pasien2nya, sedang
bersiap2 untuk kembali ke pesta keluarganya ketika ia melihat pintu gudang
terbuka sedikit.

Ia memeriksa buku ditangannya & mengerutkan keningnya. Ruang itu seharusnya

kosong. Dia mengetuk pintu, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu dan
menyalakan lampu. Hal pertama yg dilihatnya adalah seorang tua kurus yg
tergeletak diatas ranjang, disebelah sapu2 & kain lap. Tapi perhatiannya
tersedot pada sesuatu yg bersinar suram didadanya, yg memantulkan sinar
lampu yg menerobos masuk lewat pintu yg terbuka.

Dia mendekat dan mulai melihat benda yg bersinar itu, yaitu bandul kalung yg
sudah kehitam2an karena kualitas logam yg tidak baik. Tapi sesuatu pada
kalung itu membuat hatinya berdebar. Dengan hati2 ia memeriksa bandul itu
dan membaca kalimat yg tercetak dibaliknya.

"Selamat Natal, Ellis Salam Sayang, Sinterklas"
Air mata turun di pipi Ellis. Inilah orang yg paling diharapkan untuk
bertemu seumur hidupnya. Inilah orang yg membuat masa kanak2nya begitu tak terlupakan hanya dengan 1 malam saja, dan inilah orang yg membuatnya percaya bahwa sesungguhnya Sinterklas memang ada didunia ini.

Dia memeriksa denyut nadi Egar dan mengangguk. Tangannya yg terlatih
memberitahu harapan masih ada. Ia memanggil kamar darurat, dan bergerak
cepat ke kantornya. Malam natal yg sunyi itu dipecahkan dengan kesibukan
mendadak dan bunyi detak langkah2 kaki puluhan perawat & dokter jaga.

"Jangan kuatir, Pak…. Siapapun nama anda. Ellis disini sekarang, dan
Ellis akan mengurus Sinterklasnya yg tersayang." Dia menyentuh kalung di
lehernya. Rantai emas itu bersinar begitu terang sehingga seisi ruangan
terasa hangat walaupun salju mulai menderas diluar. Ia merasa begitu kuat,
perasaan yg didapatnya tiap ia menyentuh kalung itu. Malam ini dia tidak
harus bertanya2 lagi karena ia baru saja menemukan orang yg memberinya
hadiah natal yg paling sempurna sepanjang segala jaman……….

CINTA & WAKTU...


Di sebuah pulau yg terasing dr khdpn manusia,hdplah perasaan" layakny manusia,bernama KEGEMBIRAAN, KESEDIHAN, PENGETAHUAN, KEKAYAAN,CINTA,Dll. 
Mereka hdp dgn aman dan damai d pulau tsb hingga suatu hari terdengar kabar bhw pulau tsb akan tenggelam. Seisi pulau mempersiapkan diri u/ meninggalkan pulau,hingga ketika tiba wktny pulau perlahan mulai tenggelam. Mereka brkt dg kendaraanny masing",kecuali CINTA yg memutuskan u/ tinggal. Namun saat pulau tsb sdh mulai separuhnya tenggelam, CINTA pun berteriak memanggil siapa saja yg lewat.

"KEKAYAAN, dapatkah kau membawaku pergi?" tanya CINTA pada KEKAYAAN yg lewat dg balon udara yg penuh berisi emas."Maaf CINTA terlalu banyak emas di balon udaraku,aku tdk bisa menolongmu." tolak KEKAYAAN. Dan KEKAYAAN pun berlalu terbang meninggi.

Tak lama kemudian KESEDIHAN lewat dg perahunya."KESEDIHAN,dapat kah kau menolongku keluar dari sini?" tanya CINTA pada KESEDIHAN. KESEDIHAN menjawab "Maaf CINTA,aku terlebih sedih u/ membawamu,aku memilih u/ pergi dg kesendirianku." KESEDIHAN pun berlalu menjauh.

CINTA masih menunggu hingga kemudian KEGEMBIRAAN lewat dg pesawat kecilnya. "KEGEMBIRAAN,bawalah aku bersamamu!" teriak CINTA memanggil. Namun KEGEMBIRAAN terlalu gembira hingga ia tdk mendengar.

Akhirnya,CINTA merasa putus asa,hampir saja ia menyerah dan pasrah akan tenggelam bersama pulau, hingga ia mendengar satu suara memanggilnya. "Marilah, CINTA ikut dg ku." Seorang tua yg menaiki sampan butut,menghampirinya. CINTA merasa senang dan terselamatkan, ia pun naik sampan bersama si tua itu. Hingga mereka sampai di pulau kering di mana yg lain sudah berkumpul.

CINTA begitu senang hingga lupa menanyakan nama si tua yg terus berlalu. Hingga suatu saat CINTA teringat pada si tua itu,ia pun mendatangi seorang tua lainnya bernama PENGETAHUAN, dan menanyakan siapakah si tua yg telah menolongnya." namanya adalah waktu", "Kenapa WAKTU?" Mau menolongku? Tanya CINTA kemudian, PENGETAHUAN tersenyum bijak dan berkata,"Karena hanya WAKTU yg dpt mengerti betapa besar dan berartinya CINTA...."

Kisah Natal: Boneka untuk ADIK ku

* Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk membeli hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika melihat orang banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu selamanya, sedang masih banyak tempat yang harus kutuju" "Natal benar2 semakin menjengkelkan dari tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan, dan di sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya semua anak akan sungguh-sungguh bermaindengan mainan yang mahal.

* Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki2 berusia sekitar 5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka itu dan terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka itu. Anak itu mendekati seorang perempuan tua di dekatnya: 'Nenek, apakah engkau yakin aku tidak punya cukup uang?' Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta anak itu menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat lain. Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih menggenggam boneka itu di tangannya.

* Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia ingin memberikan boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik perempuanku dan dia sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin Santa Claus akan membawa boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin Santa Claus akan membawa boneka untuk adiknya, dan supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki2 itu menjawab dengan sedih 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke tempat dimana adikku berada saat ini. Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat memberikan kepadanya ketika mama sampai di sana.' Mata anak laki2 itu begitu sedih ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan. Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira mama dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku seakan terhenti.

* Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk memberitahu mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu hingga aku pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya yang sedang tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama membawa foto ini supaya tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku tapi papa berkata mama harus pergi bersama adikku.' Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.

* Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan berkata kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau2 uangmu cukup?' 'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan uangku pada uangnya tanpa setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu, dan malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima Kasih
Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan menambahkan: 'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa aku memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku. Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi aku tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku cukup untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar putih'

* Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan keretaku. Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda dari saat memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari pikiranku. Kemudian aku ingat artikel di koran lokal 2 hari yang lalu, yang menyatakan seorang pria mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang berisi seorang wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal seketika, dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak akan mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2 ini?

* 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran bahwa wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan diriku dan pergi membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah duka tempat jenasah dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu di sana, dalam peti matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik dengan foto anak laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya. Kutinggalkan tempat itu dengan menangis, merasa hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang dimiliki anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit untuk dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya dari anak itu.

Sudahkah Anda bersyukur untuk pasangan Anda hari ini....????

(Forward dari email teman)
 

"Lima tahun usia pernikahanku dengan Ellen sungguh masa yang sulit. Semakin hari semakin tidak ada kecocokan diantara kami. Kami bertengkar karena hal-hal kecil: karena Ellen lambat membukakan pagar saat aku pulang kantor, karena meja sudut di ruang keluarga yang ia beli tanpa membicarakannya denganku, bagiku itu hanya membuang uang saja.

Hari ini, 27 Agustus adalah hari ulang tahun Ellen. Kami bertengkar pagi ini karena Ellen kesiangan membangunkanku. Aku kesal dan tak mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Kecupan di keningnya yang biasa kulakukan di hari ulang tahunnya tak mau kulakukan.
Malam sekitar pukul 7, Ellen sudah 3 kali menghubungiku untuk memintaku segera pulang dan makan malam bersamanya, tentu saja permintaannya tidak kuhiraukan.

Jam menunjukkan pukul 10 malam, aku merapikan meja kerjaku dan beranjak pulang.
Hujan turun sangat deras, sudah larut malam tapi jalan di tengah kota Jakarta masih saja macet, aku benar-benar dibuat kesal oleh keadaan.

Membayangkan pulang dan bertemu dengan Ellen membuatku semakin kesal!
Akhirnya aku sampai juga di rumah pukul 12 malam, dua jam perjalanan kutempuh yang biasanya aku hanya membutuhkan waktu 1 jam untuk sampai di rumah.
Kulihat Ellen tertidur di sofa ruang keluarga. Sempat aku berhenti di hadapannya dan memandang wajahnya. "Ia sungguh cantik" kataku dalam hati, "Wanita yang menjalin hubungan denganku selama 7 tahun sejak duduk di bangku SMA yang kini telah kunikahi selama 5 tahun, tetap saja cantik". Aku menghela nafas dan meninggalkannya pergi, aku ingat kalau aku sedang kesal sekali dengannya. Aku langsung masuk ke kamar.

Di meja rias istriku kulihat buku itu, buku coklat tebal yang dimiliki oleh istriku. Bertahun-tahun Ellen menulis cerita hidupnya pada buku coklat itu.
Sejak sebelum menikah, tak pernah ia ijinkan aku membukanya.
Inilah saatnya! Aku tak mempedulikan Ellen, kuraih buku coklat itu dan kubuka halaman demi halaman secara acak.

14 Februari 1996: "Terima kasih Tuhan atas pemberianMu yang berarti bagiku, Vincent, pacar pertamaku yang akan menjadi pacar terakhirku".
Hmm. aku tersenyum, Ellen yakin sekali kalau aku yang akan menjadi suaminya.

6 September 2001: "Tak sengaja kulihat Vincent makan malam dengan wanita lain sambil tertawa mesra. Tuhan, aku mohon agar Vincent tidak pindah ke lain hati". Jantungku serasa mau berhenti...

23 Oktober 2001: "Aku menemukan surat ucapan terima kasih untuk Vincent, atas candle light dinner di hari ulang tahun seorang wanita dengan nama Melly. Siapakah dia Tuhan? Bukakanlah mataku untuk apa yang Kau kehendaki agar aku ketahui". Jantungku benar-benar mau berhenti. Melly, wanita yang sempat dekat denganku disaat usia hubunganku dengan Ellen telah mencapai 5 tahun. Melly, yang karenanya aku hampir saja mau memutuskan hubunganku dengan Ellen karena kejenuhanku. Aku telah memutuskan untuk tidak bertemu dengan Melly lagi setelah dekat dengannya selama 4 bulan;dan memutuskan untuk tetap setia kepada Ellen. Aku sungguh tak menduga kalau Ellen mengetahui hubunganku dengan Melly.

4 Januari 2002: "Aku dihampiri wanita bernama Melly, ia menghinaku dan mengatakan Vincent telah selingkuh dengannya". Tuhan, beri aku kekuatan yang berasal daripadaMu. Bagaimana mungkin Ellen sekuat itu, ia tak pernah mengatakan apapun atau menangis di hadapanku setelah mengetahui aku telah menghianatinya? Aku tahu Melly, dia pasti telah membuat hati Ellen sangat terluka dengan kata-kata tajam yang keluar dari mulutnya. Nafasku sesak, tak mampu kubayangkan apa yang Ellen rasakan saat itu.

14 Februari 2002: "Vincent melamarku di hari jadi kami yang ke-6. Tuhan apa yang harus kulakukan? Berikan aku tanda untuk keputusan yang harus kuambil".

14 Februari 2003: "Hari minggu yang luar biasa, aku telah menjadi Nyonya Alexander Vincent Winoto. Terima kasih Tuhan!"

18 Juli 2005: "Pertengkaran pertama kami sebagai keluarga. Aku harap aku tak kemanisan lagi membuatkan teh untuknya. Tuhan, bantu aku agar lebih berhati-hati membuatkan teh untuk suamiku".

7 April 2006: "Vincent marah padaku, aku tertidur pulas saat ia pulang kantor sehingga ia menunggu di depan rumah agak lama. Seharian aku berada di mall mencari jam idaman Vincent, aku ingin membelikan jam itu di hari ulang tahunnya yang tinggal 2 hari lagi. Tuhan, beri kedamaian di hati Vincent agar ia tidak marah lagi padaku, aku tak akan tidur di sore hari lagi kalau Vincent belum pulang walaupun aku lelah."

Aku mulai menangis, Ellen mencoba membahagiakanku tapi aku malah memarahinya tanpa mau mendengarkan penjelasannya. Jam itu adalah jam kesayanganku yang kupakai sampai hari ini, tak kusadari ia membelikannya dengan susah payah.

15 November 2007: "Vincent butuh meja untuk menaruh kopi di ruang keluarga, dia sangat suka membaca di sudut ruang itu. Tuhan, bantu aku menabung agar aku dapat membelikan sebuah meja, hadiah Natal untuk Vincent. Aku tak dapat lagi menahan tangisanku, Ellen tak pernah mengatakan meja itu adalah hadiah Natal untukku. Ya, ia memang membelinya di malam Natal dan menaruhnya hari itu juga di ruang keluarga. Aku sudah tak sanggup lagi membuka halaman berikutnya. Ellen sungguh diberi kekuatan dari Tuhan untuk mencintaiku tanpa syarat. Aku berlari keluar kamar, kukecup kening Ellen dan ia terbangun. "Maafkan aku Ellen, Aku mencintaimu, Selamat ulang tahun."

Pria seringkali egois, lambat dan kurang tanggap dalam menanggapi pengorbanan dan kebaikan yang telah dilakukan oleh isterinya. Marilah kita belajar tanggap untuk hal-hal positif yang telah dilakukan oleh isteri/anak kita, berilah pujian, penghargaan, tinggalkanlah sikap menuntut untuk dihormati, dilayani. Mulailah mengucap syukur untuk pemberian Tuhan yang terindah dalam hidupmu.