hadiah Natal untuk Alma...

|1 komentar
Saat itu adalah malam menjelang natal di tahun 1970 dan seorang anak perempuan kecil berdoa untuk sebuah boneka. Dia tak pernah memiliki boneka selama ini. Alma memandang ke sekeliling rumahnya, rumah pertanian yang sederhana. Tidak ada pohon natal di sudut rumah. Tak ada lilin yang menyala di jendela. Tidak ada tumpukan kado Natal di atas meja. Tapi, rumah itu terlihat bersih dan hangat dan Alma merasa bahagia dan bersyukur.
Alma mencintai rumahnya dan dia juga mencintai gereja kecil bercat putih yang ada di desanya. Di gereja itu, dia mendengar kisah tentang Bayi Jesus yang juga miskin, yang bahkan tidak memiliki sebuah kasur untuk tidur, dan yang lahir di atas tumpukan jerami di sebuah gudang ternak. Dia mendengarkan cerita tentang kelahiran-Nya berulang-ulang dengan rasa kagum dan hormat.

Malam ini Alma merasa sangat bahagia. Program Natal Tahunan di gerejanya mengundang hampir seluruh keluarga yang tinggal di sebuah sisi bukit kecil, desa Pennsylvania itu untuk bernatalan di gereja. Alma, bersama ibu dan adik-adiknya, berjalan menuruni jalanan desa yang panjang, melalui salju tebal yang telah disesaki oleh kereta gerobak dan salju yang ditarik oleh kuda. Suasana Norman Rockwell tergambar saat itu, saat-saat Amerika permulaan, cuaca yang dingin, malam di musim dingin yang mempercepat langkah-langkah kaki manusia, namun menyegarkan jiwa.

Setelah duduk di dalam gereja, Alma memandang ke sekelilingnya. Murid-murid sekolah minggu telah menghias pohon natal yang berdiri di depan altar di dekat piano. Lilin-lilin di pohon natal itu memberikan sebuah cahaya lembut ke bagian atas gereja. Kemudian pendeta membaca kisah tentang kelahiran Jesus, kemudian mengundang setiap orang menyanyikan kidung puji-pujian setelah lagu-lagu Natal. Seorang pembantu gereja (penatua) memberikan kepada masing-masing anak kecil sejumlah cokelat dan permen yang dibungkus dalam sebuah kertas serbet dan diikat dengan pita merah.

Di bawah pohon Natal, terdapat tumpukan kado Natal yang tinggi. Saat itu merupakan kebiasaan bagi para keluarga untuk membawa hadiah mereka – yang akan diberikan kepada anggota keluarga yang lain dan teman – ke gereja dan hadiah itu akan dibuka di depan semua jemaat yang hadir. Tidak pernah lepas dari perhatian Alma, bahwa seperti biasanya, ibunya tidak membawa hadiah apa pun dan Alma pun tidak berharap apa-apa. Ayahnya jarang pulang ke rumah. Hal ini karena ayahnya adalah seorang penebang kayu dan seorang pengumpul ginseng. Ketika ayahnya pulang, uang yang tersedia sangat sedikit.

Akhirnya, pendeta berjalan menuju pohon Natal, mengambil kado pertama dan berkata,”Kado ini untuk Blanche dari kedua orang tuanya”. Semua orang bertepuk tangan ketika Blanche dengan gembira berjalan ke depan untuk menerima hadiah. Hadiah itu berupa switer indah berwarna putih yang dijahit dengan tangan.

Pendeta mengambil kado demi kado, memanggil hampir setiap orang yang  ada di gereja. Semua anak laki-laki mendapatkan kereta api mainan  yang terbuat dari ukiran kayu dari ayah mereka; kereta salju mainan baru diangkat tinggi-tinggi oleh pendeta supaya dilihat oleh semua jemaat;berbotol-botol parfum dengan merek “April in Paris” dipersembahkan oleh para anak perempuan kepada ibu mereka. Sebuah gangsing dengan warna merah menyala berputar mengitari lantai kayu gereja. Semua memandang dengan gembira. Alma pun ikut tertawa dan bertepuk tangan. Dan dia menunggu dan menunggu kado dari pendeta.

Akhirnya, pendeta pun mengambil kado terakhir. Alma menahan napas. Kado ini pasti untuknya;boneka yang seringkali ia doakan. “Christine,” pendeta memanggil sebuah nama,”kado ini untukmu”. Christine membuka kotak yang panjang dan sempit itu dan dengan hati-hati mengeluarkan sebuah boneka porselin besar dengan rambut blonde, mengenakan gaun panjang merah muda dan topi yang sesuai. Christine memeluk boneka itu dengan erat, dan berlari ke arah ayah-ibunya untuk berterima kasih atas hadiah mewah itu.
Alma berdiri dengan tenang ketika lagu puji-pujian terakhir dinyanyikan dan setiap anak dengan satu lengan penuh berjuang membawa kado-kado itu ke kereta mereka. Akhirnya, Alma mengikuti keluarganya keluar dari gereja dan memulai perjalanan panjang ke rumah.

Dengan cepat, dia berjalan ke arah sebuah tonggak kayu dimana kuda  biasa ditambatkan, dan tanpa sengaja menabrakkan keningnya hingga
terjatuh ke belakang ke arah gumpalan salju. Dengan rasa bingung, ia kembali berdiri dan berjalan sempoyongan untuk bergabung dengan keluarganya yang sama sekali tidak melihatnya jatuh. Sebuah benjolan seperti telur dengan cepat membesar di keningnya, sebuah benjolan tulang yang tetap terlihat jelas sepanjang hidupnya. Namun, Alma terlihat seperti menganggapnya layaknya sebuah lencana kehormatan  dan dengan tertawa menyebutnya sebagai kado Natal di tahun 1907.  Alma tidak menganggap kecelakaan itu sebagai kenangan pahit, tapi  sebagai sebuah kemenangan. Alma, seorang penganut Kristiani yang  bahagia sepanjang hidupnya hingga meninggal di usia yang ke 96.

Catatan :
Alma adalah ibu dari Mariane Holbrook, seorang pensiunan guru, pengarang dua buku, seorang musisi dan seniman. Dia tinggal bersama suaminya di Pantai Carolina Utara.

Dua BAYI dalam palungan

|0 komentar
Di tahun 1994, dua orang Amerika menanggapi undangan Departemen Pendidikan Rusia untuk mengajar Moral dan Etika berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab di sekolah-sekolah umum. Mereka diundang mengajar di penjara-penjara, kantor-kantor, departemen kepolisian, pemadam kebakaran, dan disebuah tempat yatim piatu yang besar.

Ada sekitar 100 anak laki-laki dan perempuan penghuni di situ, yang terbuang, ditinggalkan dan sekarang ditampung dalam program pemerintah. Beginilah kisah dalam kata-kata mereka:
Waktu itu mendekati musim libur tahun 1994, sewaktu anak-anak yatim piatu kita - untuk pertama kalinya - mendengar kisah Natal. Kami cerita soal Maria dan Jusuf, yang sesampai di Bethlehem, sebab tak mendapat penginapan, lalu pergi kesebuah kandang binatang, dimana bayi Yesus lahir dan diletakkan dalam sebuah palungan.

Sepanjang cerita itu, anak-anak maupun staf rumah yatim itu terpukau diam, terpaku takjub mendengarkan. Beberapa diantaranya bahkan duduk diujung depan sekali kursi mereka seakan agar bisa lebih menangkap tiap kata. Seusai ceriteranya semua anak-anak kami beri tiga potong kertas karton untuk membuat palungan, juga sehelai kertas persegi, dan sedikit sobekan kertas napkin berwarna kuning yang kami bawa. Maklum, masa itu kertas berwarna sedang langka dikota ini.
Sesuai petunjuk anak-anak itu menyobek kertasnya, lantas dengan hati-hati, menyusun sobekan pita-pita seakan-akan jerami kuning dipalungan. Potongan-potongan kecil kain flanel - digunting dari gaun-malam bekas dari seorang ibu Amerika saat meninggalkan Rusia - dipakai sebagai selimut kecil bayi itu. Bayi mirip bonekapun digunting dari lembaran kulit tipis yang kami bawa dari Amerika.

Mereka semua sibuk menyusun palungan masing-masing saat aku berjalan keliling, memperhatikan kalau-kalau ada yang butuh bantuan. Semuanya kelihatan beres, sampai aku tiba dimeja sikecil Misha (seorang anak laki-laki). Kelihatannya ia sekitar 6 tahun dan sudah menyelesaikan proyeknya.
Sewaktu kulihat palungan bocah kecil ini, saya heran bahwa bukannya satu, melainkan ada dua bayi didalamnya. Cepat kupanggil penterjemah agar menanyai anak ini kenapa ada dua bayi.
Dengan melipat tangannya dan mata menatap hasil karyanya, anak ini mulai mengulang kisah Natal dengan amat serius.
Untuk anak semuda dia yang baru sekali mendengar kisah Natal, ia mengurutkan semua kejadian demikian cermat dan telitinya - sampai pada bagian kisah dimana Maria meletakkan bayi itu kedalam palungan. Di sini si Misha mengubahnya. Ia membuat penutup akhir kisah ini demikian:

"Sewaktu Maria menaruh bayi itu dipalungan, Yesus lalu melihat aku dan bertanya apa aku punya tempat tinggal. Aku bilang aku tak punya mama dan tak punya papa, jadi aku tak punya tempat untuk tinggal. Lalu Yesus bilang aku sih boleh tinggal sama dia. Tapi aku bilang tidak bisa, sebab aku kan tidak punya apa-apa yang bisa kuberikan sebagai hadiah seperti orang-orang dalam kisah itu. Tapi aku begitu ingin tinggal bersamanya, jadi aku pikir, apa yah yang aku punya yang bisa dijadikan hadiah. Aku pikir barangkali kalau aku bantu menghangatkan dia, itu bisa jadi hadiah."
"Jadi aku bertanya pada Yesus, 'Kalau aku menghangatkanmu, cukup tidak itu sebagai kado?' Dan Yesus menjawab, 'Kalau kamu menjaga dan menghangatkan aku, itu bakal menjadi hadiah terbaik yang pernah diberikan siapapun padaku.' Jadi begitu, terus aku masuk dalam palungan itu, lantas Yesus melihatku dan bilang aku boleh kok tinggal bersamanya - untuk selamanya."

Saat sikecil Misha berhenti bercerita, air matanya menggenang meluber jatuh membasahi pipinya yang kecil. Wajahnya ia tutupi dengan tangannya, kepalanya ia jatuhkan ke meja dan seluruh tubuh dan pundaknya gemetar saat ia menangis tersedu.

Yatim piatu kecil ini telah menemukan seseorang yang takkan pernah melupakan atau meninggalkannya, yang takkan pernah berbuat zalim padanya, seseorang yang akan tetap tinggal dan menemaninya - untuk selamanya.